Senin, 19 Agustus 2013

Gadis Mimpi

Lima belas tahun lalu seorang gadis kecil bercengkerama dengan mimpinya di pagi buta. Bersedekap dalam balutan sarung abu-abu dengan motif merak ia duduk di beranda rumah usai solat subuh. Gadis mimpi, seluruh anggota keluarganya menyebut ia demikian. Bukan tanpa alasan ibu, ayah, dan kakaknya memanggilnya dengan sebutan itu. “Aku mau jadi insinyur pembangunan. Aku mau sehebat pak Habibi” gumamnya bangga acap kali ditanya apa cita-citanya.
*Prolog cerpen selanjutnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar