Jumat, 07 Desember 2012

Nenek penjual bunga cempaka


Kisah ini dituturkan KH Jalaludin Rakhmat dari KH Zawawi Imron, diambil dari posting ustad Abdul Jalil Ahmad di milis Perhimpunan Pengajian Islam Perth.

“Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai berjualan ia pergi ke mesjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar mesjid dan membungkuk-bungkuk di halaman mesjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman mesjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman mesjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari itu sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung mesjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari takmir mesjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk mesjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satupun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke mesjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “berikan kesempatan padaku untuk membersihkannya.”

Singkatnya cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya, kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. “Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar